KUIDADUS ENFERMAGEM TEORIKU HIGIENE PESOAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis
seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan
kebiasaan.
Hal-hal yang
sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan,
persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan. Dimana
secara alamiah tingkat perkembangan kehidupan terdiri dari tiga tahapan yaitu,
anak, dewasa, dan tua.
Sedangkan menurut UU No 4 tahun 1945
seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri
untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain
disebut dengan lansia.
Seiring
bertambahnya usia, kerentanan lansia terhadap penyakit kronis dan penyakit yang
mengancam nyawa serta infeksi akut meningkat, dan menurunnya kekebalan tubuh
memperburuk kondisi kesehatan para lansia. Kanker, penyakit jantung, diabetes,
infeksi dan kesehatan mulut yang buruk, terutama kehilangan gigi dan kondisi
periodontal yang parah, lebih banyak terjadi di kelompok usia ini (Gateaway,
2013).
Dipandang
dari sudut sosial, lansia dengan personal hygiene yang baik lebih dapat
diterima di masyarakat dibandingkan dengan lansia yang memiliki personal
hygiene yang kurang baik. Lansia dengan personal hygiene yang baikpun
menurunkan resiko untuk terjadi penyakit infeksi. Kebutuhan akan personal
hygiene harus menjadi prioritas utama bagi lansia, karena dengan personal
hygiene yang baik maka lansia memiliki resiko yang rendah untuk mengalami
penyakit infeksi(Gateaway, 2013).
Upaya
pemeliharaan personal hygiene meliputi kebersihan rambut, mata, telinga, gigi,
mulut, kulit, kuku, dan membersihkan gaun. Dalam upaya untuk menjaga personal
hygiene ini, pengetahuan keluarga tentang pentingnya personal hygiene sangat
diperlukan. Tindakan seseorang dapat dibentuk dengan pengetahuan atau kognitif,
sehingga kognitif atau pengetahuan merupakan domain yang sangat penting.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari personal
hygiene?
2.
Apa saja macam-macam personal
hygiene
3.
Apa faktor yang mempengaruhi
personal hygiene?
4.
Bagaimana tanda dan gejala
gangguan personal hygiene?
5.
Bagaimana asuhan keperawatan pada
lansia dengan gangguan personal hygiene
C.
Tujuan
A. Tujuan umum
Tujuan umum dari penulisan laporan ini
adalah untuk mmendaptkan gambaran nyata mengenai Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Personal Hygiene
B. Tujuan khusus
1.
Untuk mengetahui pengertian
personal hygiene
2.
Untuk mengetahui macam macam
personal hygiene
3.
Untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi personal hygiene
4.
Untuk mengetahui tanda dan gejala
gangguan personal hygiene
5.
Bagaimana asuhan keperawatan pada
lansia dengan gangguan personal hygiene
6.
Untuk mengetahui perawatan lansia
pasif
7.
Teori Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Personal Hygiene
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
Definisi
Menurut
Tarwoto (2018) personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
Pemenuhan personal hygiene diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan
kesehatan. Kebutuhan personal hygiene ini diperlukan baik pada orang sehat
maupun pada orang sakit.
Praktik
personal hygiene bertujuan untuk peningkatan kesehatan dimana kulit merupakan
garis tubuh pertama dari pertahanan melawan infeksi Dengan implementasi
tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan
itu maka akan menambah tingkat kesembuhan pasien (Potter & Perry, 2017).
B.
Macam-macam personal hygiene
1.
Perawatan rambut
Penampilan dan kesejahteraan seseorang sering kali tergantung dari cara
penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan
mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut sehari-sehari. Menyikat,
menyisir dan bersampo adalah cara-cara dasar hygienis untuk semua usia.
Pertumbuhan, distribusi pola rambut dapat menjadi indikator status
kesehatan umum, perubahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan,
infeksi dan penyakit tertentu atau obat obatan dapat mempengaruhi karakteristik
rambut.
Rambut normal adalah bersih, bercahaya, dan tidak Kusut, untuk kulit kepala
harus bebas dari lesi kehilangan disebabkan karena praktik perawatan yang tidak
tepat atau penggunaan medikasi kemoterapi. Potter dan Perri (2017), menjelaskan
mengenai masalah rambut dan kulit kepala yang sering terjadi yaitu:
a.
Ketombe
Kelepasan kulit kepala di sertai gatal pada kasus
berat. Ketombe dapat di temukan di alis.
·
Implikasi
Ketombe menyebabkan seseorang menjadi malu jika
ketombe masuk masuk mata berkembang menjadi konjungivitis
·
Intervensi
Bersampo secara teratur dengan sampo yang bermedikasi.
Pada kasus berat, mintalah saran dokter
b.
Pediculosis (kutu)
Parasit abu-coklat. Kecil menggali liang ke
dalam kulit dan mengisap darah.
·
Implikasi
Kutu memindakan beberapa penyakitnya pada manusia. Penyakit
yang paling umum adalah demam berbintik “rocky mountain” , tularemia, dan
“limy”
·
Intervensi
Jangan menarik kutu dari kulit karena alat penghisap
akan tertinggal dan dapat terinfeksi. Mematikan kutu dengan pemberian
setetes minyak atau eter pada kutu atau tutupi kutu dengan jeli petroianum
untuk memudahkan pengangkatan
c.
Pediculosis capitis (kutu rambut)
Parasit ditemukan pada kulit kepala yang menempel pada
helai rambut. Telur terlihat seperti [artikel oval mirip ketombe. Gigitan
ataupustula dapat di obsrefasikan dibelakang telinga atau pada garis
pertumbuhan rambut
·
Implikasi
Kutu rambut sulit untuk dipindahkan dan dapat menyebar
ke peralatan dan orang lain jika tidak di obati.
·
Intervensi
Bersampo dengan sampo kwell dan ulangi 12-24 jam
setelahnya. Ganti linen tempat tidur. Cuci linen ke dalam air panas untuk
membunu kutu.
d.
Pediculosis corpolis (kutu badan)
Parasit yang melekat pada pakaian sehinnga tidak mudah
terlihat. Kutu darah akan menghisap darah dan meninggalkan telur pada pakaian
dan badan
·
Implikasi
Klien gatal terus menerus, goresan terlihat pada kulit
dapat terindeksi. Bintik hemorogik dapat terlihat pada kulit dimana kutu
menghisap darah.
·
Intervensi
Mandi keseluruan setelah kulit kering, gunakan lotion
kwell. Setelah 12-24 jam , mandi lagi. Bungkus pakaian atau linen yang
terdapat kutu tersebut sampai di cuci dalam air panas. Bersihkan keseluruan dan
buang kantong setelah selesai.
e.
Pediculosis
pubis (kuku kepiting)
Parasit di temukan pada ranbut pubis. Kutu kepiting
berwarna putih-keabuan dan kaki berwarna merah
·
Implikasi
Kutu dapat menyebar melalui liner tempat tidur
pakaian, atau pakaian atau diantara orang melalui kontak seksual
·
Intervensi
Cukur rambut pada daeraht yang terinfeksi. Intervensi
pembersian seperti pada interfensi untuk kutu badan. Jika kutu
ditransmisi melalui kontak seksual beritahula pasangan
f.
Kehilangan
rambut (alopesia)
Alopasia terjadi pada semua ras. Bidang pembotakan
terlihat pada bagian perifer garis rambut. Rambut menjadi rapuh dan
patah, kondisi ini di sebabkan pengguna pengeriting rambut, produk
rambut, pengikat rambut ketat dan menggunakan sisir panas
·
Implikasi
Bidang-bidang pertumbuhan dan kehilangan rambut
yang tidak merata mengubah penampilan klien
·
Interverensi
Hentikan praktik perawatan
2.
Perawatan mata, telinga dan
hidung
Seseorang hanya memerlukan untuk memindahkan sekresi kering yang terkumpul
kepada kantus sebelah, dalam bulu mata hygiene telinga mempunyai implikasi
ketajaman pendengaran sebasea lilin atau benda asing berkumpul pada kanal
telinga luar yang mengganggu konduksi suara.
Khususnya pada lansia rentan masalah. Hidung memberikan temperatur dan
kelembaban udara yang pernafasan dihirup serta mencegah masuknya partikel asing
ke dalam sistem kumulasi sekresi yang mengeras di dalam nares dapat merusak
sensasi olfaktori dan pernafasan (Potter dan Perry, 2017).
3.
Perawatan Kulit
Kondisi kulit tergantung pada praktek hygiene dan paparan iritan
lingkungan, sejalan dengan usia, kulit kehilangan layak kenyal dan kelembaban,
pada kelenjar sebasea dan keringat menjadi kurang aktif. Epitalium menipis dan
serabut kolagen elastik, menyusut sehingga kulit mudah pecah. Perubahan ini
merupakan peringatan ketika bergerak dan mengatur posisi pada lansia.
Khas kulit lansia adalah kering dan berkerut, masalah kulit yang umum yaitu
kulit kering, jerawat, hirsutisme dan suam. Kulit tujuan dari membersihkan
kulit dengan mandi yaitu; membersihkan kulit, stimulasi sirkulasi, citra diri,
pengurangan bau badan dan peningkatan rentang gerak. Tipe mandi yang terapeutik
terdiri dari mandi bak mandi air panas, mandi bak air hangat, mandi bak air
dingin, berendam dan rendam duduk (Potter dan Perry, 2005).
4.
Perawatan Kaki,
Tangan dan Kuku
Kaki dan kuku sering kali memerlukan perawatan khusus untuk mencegah
infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Perawatan dapat digabungkan pada saat
mandi atau pada waktu yang terpisah. Masalah yang timbul bukan karena perawatan
yang salah atau kurang terhadap kaki dan tangan seperti menggigit kuku atau
memotong yang tidak tepat. Pemaparan
dengan zat-zat kimia yang tajam dan pemakaian sepatu yang tidak pas.
Ketidaknyamanan dapat mengarah pada stres fisik dan emosional (Potter dan
Perry, 2005).
C. Faktor-faktor
yang mempengaruhi personal hygiene
Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah :
1.
Faktor
Pengetahuan
Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan, pengetahuan tersebut dapat bersifat
intelektual (cara berpikir, berabstrak, analisa, memecahkan masalah dan
lain-lain). Yang meliputi pengetahuan (knowledge), pemahaman (comperehension),
penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi
(evaluation). Individu dengan pengetahuan tentang pentingnya kebersihan diri
akan selalu menjaga kebersihan dirinya untuk mencegah dari kondisi / keadaan
sakit.
2.
Kondisi Fisik Lansia dan Psikis
Lansia
Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di
bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan
sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi
kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang lain (Nugroho,
2018).
Menurut Zainudin (2019) penurunan kondisi psikis pada lansia bisa
disebabkan karena Demensia di mana lansia mengalami kemunduran daya ingat dan
hal ini dapat mempengaruhi ADL (Activity of Daily Living yaitu kemampuan
seseorang untuk mengurus dirinya sendiri), dimulai dari bangun tidur, mandi
berpakaian dan seterusnya.
3.
Faktor Ekonomi
Besar pendapatan keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk
menyediakan fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk menunjang
hidup dan kelangsungan hidup keluarga.
4.
Faktor Budaya
Kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi kemampuan perawatan hygiene.
Seorang dari latar belakang kebudayaan berbeda memiliki praktik perawatan diri
yang berbeda. Keyakinan yang didasari kultur sering menentukan definisi tentang
kesehatan dan perawatan diri (Potter dan Ferry, 2017).
5.
Faktor Lingkungan
Lingkungan mencakup semua faktor fisik dan psikososial yang mempengaruhi
atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup lingkungan berpengaruh
terhadap kemampuan untuk meningkatkan dan mempertahankan status fungsional, dan
meningkatkan kesejahteraan (Potter dan Ferry, 2017)
6.
Faktor Citra Tubuh
Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan
fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan
citra tubuh individu (Stuart & Sundeen, 2016 dalam Setiadi 2018)
7.
Faktor Peran Keluarga
Keluarga secara kuat mempengaruhi perilaku sehat setiap anggotanya begitu
juga status kesehatan dari setiap individu mempengaruhi bagaimana fungsi unit
keluarga dan kemampuan untuk mencapai tujuan. Pada saat
kepuasan keluarga terpenuhi tujuannya melalui fungsi yang adekuat, anggota
keluarga tersebut cenderung untuk merasa positif mengenai diri mereka sendiri
dan keluarga mereka (Potter dan Ferry, 2017).
D.
Tanda dan gejala
Menurut Depkes
(2016: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
1.
Fisik
Badan bau, pakaian kotor, Rambut dan kulit kotor, Kuku panjang dan kotor,
Gigi kotor disertai mulut bau, Penampilan tidak rapi.
2.
Psikologis
Malas, tidak ada inisiatif, Menarik diri, isolasi diri, Merasa tak berdaya,
rendah diri dan merasa hina.
3.
Sosial
Interaksi kurang, Kegiatan kurang, Tidak mampu berperilaku sesuai norma, Cara makan tidak teratur
BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
E.
Gangguan personal hygiene pada lansia
Memenuhi
kebutuhan kebersihan diri pada lansia adalah suatu tindakan perawatan sehari –
hari yang harus diberikan kepada klien lanjut usia terutama yang berhubungna
dengan kebershan perorangan (Personal Hygiene), yaitu antara lain kebersihan
mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kepala, rambut dan kuku,
serta kebersihan tempat tidur dan posisi tidur (Nugror, 2016).
Perawatan secara umum bagi lansia
terbagi 2, yaitu:
1.
Mereka yang masih aktif
Dimana
keadaan fisiknya mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga kebutuhan
sehari – hari dapat terenuhi.
2.
Mereka yang pasif
Mereka yang
keadaan fisiknya memerlukan pertolongan orang lain, seperti sakit atau lumpuh.
F.
Perawatan lansia aktif
Bagi mereka yang masih aktif, hal
–hal yang perlu di perhatikan antara lain:
1.
Mandi
Mandi agar
dibatasi karena kulit lansia biasanya mengering. Hal ini disebabkan kelenjar
kulit yang mengeluarkan lemak mulai kurang bekerja. Maka sehabis mandi kulit
lansia sebaiknya diolesi baby oil terutama di lengan, siku, ketiak, paha, dan
sebagainya.
2.
Kebersihan mulut
Kebersihan
mulut adalah sangat penting. Perlu diingat atau dibantu para lansia untuk
menyikat gigi yang hanya tinggal beberapa buah. Gigi palsu perlu mendapat
perhatian khusus, dibersihkan dengan sabun dan sikat. Untuk menghilangkan bau
gigi palsu direndam dalam air hangat yang telah dibubuhi obat pembersih mulut
beberapa tetes selama 5 – 10 menit, setelah itu bilas sampai bersih dari sabun
dan bubuk pembersih mulut tersebut.
3.
Perawatan rambut
Lanjut usia
terutama wanita kadang – kadang mengalami kesulitan dalam mencuci rambut
sehingga perlu mendapat bantuan perawat atau ank cucunya. Sama halnya dengan
kulit, rambut orang lansia juga kehilngan lemaknya sehingga sehabis keramas
perlu diberi conditioner. Setelah selesai mencuci rambut harus segera
dikeringkan agar lansia tidak kedinginan.
4.
Perawatan kuku
Kuku jari
tangan dan kaki perlu mendapatkan perawatan, Menggunting kuku jangan terlalu
pendek dan jangan sampai terluka karena luka pada orang tua lebih sulit sembuh.
5.
Pakaian
Pakaian
hendaknya jangan terbuat dari bahan yang kasar. Dasar pakainan harus lunak,
harus mudah dikenakan dan dibersihkan. Pakaian lansia dijaga agar tetap rapi
karena cenderung para lansia tidak peduli lagi terhadap pakaiannya. Lansia
lebih enak dengan piyama tipis jangan pakaian dari wool karena bias terjadi
iritasi.
6.
Mata
Elastisitas
lensa mata pada lansia berkurang akibatnya tulisan kecil terlihat kabur pada
jarak normal, sedangkan pada jarak jauh akan terlihat terang. Gejala yang tidak
normal antara lain:
a.
Penglihatan menjadi ganda
b.
Bintik hitam atau ada daerah yang
gelap
c.
Sakit pada mata
d.
Terlihat ada warna atau terang
disekitar ujung – ujung objek
e.
Mata yang kemerahan
f.
Tiba – tiba kehilangan melihat
dengan jelas
7.
Lingkungan
Suasana
lingkungan harus disesuaikan. Bila memungkinkan jagalah kelembapan ruang tidur
atau ruangan lainnya dirumah dengan memasang humidifier. Perubahan temperature
secara tiba – tiba harus dihindarkan.
G. Perawatan lansia pasif
Bagi lansia yang terus beristirahat
di tempat tidur, kebersihan di tempat tidur perlu tetap diperhatikan, yaitu:
a.
Diusahakan agar bantal tidak terlalu
keras atau lembek
b.
Latihan bangun dan tidur dengan
usaha sendiri agar otot badan tetap
aktif dan menghindarkan pegal – pegal serta atrofi otot
c.
Letak tidur diatur antara lain :
·
Letak guling dibawah lutut.
·
Berikan bantal angin yang berbentuk
cincin untuk mencegah lecet pada tumit dan bokong.
·
Letak tidur dimiringkan bergantian
pada sisi kana atau kiri.
·
Pada letak atau posisi setengah
duduk, di bagian kepala tempat tidur diberi sandaran atau papah.
H. Teori Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Personal Hygiene
A.
Pengkajian
Tanggal pengkajian :
Jam :
·
Data
biografi
Terdapat
: Nama, Tempat dan tanggal lahir, pendidikan terakhir, Agama, Status, TB/BB,
penampilan, ciri-ciri tubuh, Alamat, Orang yang dekat dihubungi, Hubungan
dengan usia, Alamat.
·
Riwayat
Keluarga
Genogram
:
Keterangan
:
·
Riwayat
Pekerjaan
Terdapat
pekerjaan saat ini, Alamat pekerjan, Jarak dari rumah, Alat transportasi,
Pekerjaan sebelumnya, Berapa jarak dari rumah, sumber-sumber pendapatan dan kecukupan
terhadap kebutuhan.
·
Riwayat
Lingkungan Hidup
Type
tempat tinggal, Jumlah kamar, kondisi tempat tingal, jumlah orang yang tinggal
dirumah, Derajat privasi, Tetangga terdekat, Alamat/telpon.
·
Riwayat
rekreasi
Hobby/minat,
Keangotaan organisasi, Liburan perjalanan.
·
Sistem
pendukung
Perawat/bidang
/dokter/fisioterapi, jarak dari rumah, pelayanan kesehatan dirumah, makanan
yang dihantarkan, perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga.
·
Diskripsi
Kekhususan
Kebiasaan
ritual,
·
Status
Kesehatan
Status
kesehatan umum selama setahun yang lalu, status kesehatan umum selama 5 tahun
yang lalu, keluhan utama (provocative/palliative, quality/quantity, region,
severity scale, timming, pemahaman dan penatalaksanaan masalah kesehatan.
Keluhan Utama :
Keluhan yang dirasakan klien pada saat pengkajian.
Penatalaksanaan masalah kesehatan :
Tindakan yang dilakukan klien saat sakit.
Obat-Obat yang pernah diterima klien menurut catatan
di pelayanan kesehatan .
Pola persepsi pemeliharaan kesehatan
Selama ini klien tidak pernah melakukan hal-hal yang
merugikan kesehatan seperti merokok atau minum-minuman keras.
Alergi : klien tidak memiliki riwayat alergi terhadap
makanan atau obat-obatan serta suaca
yang extrim.
B.
Masalah keperawatan
Masalaha yang di alami
pasien
C.
Diagnose keperawatan
Mengambil diagnose
berdasarkan analisa data
D. Intervensi
Planing
tindakan apa yang akan dilakukan kepada pasien
E.
Evaluasi
Evaluasi
disusun mengunakan SOAP secara operasional dengan sumatif (dilakukan selama
proses asuhan keperawatan) dan formatif (dengan proses dan evaluasi akhir).
Evaluasi
dapat menjadi 2 jenis yaitu :
1. Evaluasi
berjalan (sumatif)
Evaluasi
jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan
berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai
adalah format SOAP.
2. Evaluasi
akhir (formatif)
Evaluasi
jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai.
Bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungking semua tahap dalam proses
keperawatan perlu ditijau kembali, agar didapat data-data masalah atau rencana
yang perlu dimodifikasi.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Kasus
Ny.E, 51 tahun dirawat di rumah sakit HNGV, sejak 2 minggu
yang lalu dengan diagnosa medis DM dengan gangrene pada dorsal pedis. Dari
hasil pengkajian didapatkan data kesadaran kompos mentis, TD=120/90mmHg, suhu
36,5 c˚, RR=20x/ menit. Klien mengeluh lemas, pusing, dan merasa sakit pada
daerah kaki yang ada luka serta tidak dapat menggerakannya. Klien juga
mengatakan belum mencuci rambut dan menggosok gigi serta memotong kuku selama
berada diruangan. Mandi dilakukan setiap dua kali sehari dengan cara dilap
tanpa menggunakan sabun dengan di bantu keluarga. Klien mempunyai pemahaman dan
keyakinan bahwa selama sakit tidak boleh mandi dan mencuci rambut. Dari hasil
pemeriksaan fisik didapatkan data rambut klien kotor, lengket dan berminyak,
saat berbicara tercium bau, gigi terlihat kuning dan kotor, kulit terlihat
kotor dan tidak bercahaya, kuku panjang dan kotor. Kebutuhan aktivitas sehari –
hari dibantu seluruhnya oleh anggota keluarga dan perawat. Klien juga terpasang
dowe kateter dan infuse RL tetes/ menit. Balutan luka diganti setiap satu kali
sehari dengan menggunakan prinsip steril. Nafsu makan klien baik dimana klien
mampu menghabiskan makanan yang telah disediakan dirumah sakit.
B.
Pengkajian
Tanggal Masuk : 02
Desember 2021
Jam Masuk : 09.00
Ruang/Kelas : Lt. IV/3
No.Kamar : 137
No.Register : 0809
Data demografi
Nama Pasien : Ny.E
Tempat/tanggal lahir : kaikoli,10 desember 1960
Umur
: 51
Jenis
Kelamin : Perempuan
BB/TB : 55 Kg/158
cm
Status Perkawinan : Kawin
Agama : katolik
Suku Bangsa : Timor-Leste
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pedagang
Alamat Rumah : Avenida st
Antonio
Alamat Kantor : Plaza
timor
Sumber Biaya : Suami
Nama Suami : Munajar
Pendidikan Suami : SMA
Pekerjaan : SATPAM
Riwayat
kesehatan
a.
Tanggal mulai sakit
18 November 2021
b.
Riwayat penyakit
sekarang
Klien datang ke rumah sakit dengan
kondisi
terdapat luka pada daerah tungkai
kaki kiri. Suami klien mengatakan luka disebabkan karena terkena rantai sepeda
motor ketika perjalanan berobat ke dokter 1 bulan yang lalu. Klien mengatakan
saat kejadian tersebut klien sama sekali tidak merasakan sakit pada kakinya.
karena luka dirasa tidak sembuh-sembuh
dan semakin melebar, kemudian klien dibawa ke RSUP Fatmawati Jakarta
c.
Diagnosa
medis
DM dengan ganngrene pada dorsal pedis dengan balutan luka harus diganti setiap 1x sehari
dengan prinsip steril
d.
Keluhan
Klien mengeluh lemas, pusing dan merasa sakit pada daerah dorsal pedis yang ada luka serta tidak
dapat menggerakannya dan klien terlihat meringi
e.
Cara masuk RS
·
Brankar :
Klien masuk Rs dengan bantuan brankar
·
Kursi
: -
·
Lain-lain : -
f.
Lain-lain : Oksigen 2
liter/manit, dower chateter dan infuse terpasang sejak 3 desember sampai 13 desember 2011.
Pola kebiasaan
sehari-hari
Pola Aktivitas
Di rumah : Melakukan
aktivitas seperti biasa
Di
RS : Dibantu seluruhnya oleh keluarga
dan perawat
Pengkajian
fisik yang berhubungan dengan aktivitas :
Kekuatan otot : Tidak dikaji
Paralis : Tidak dikaji
Terapi
bedrest : bedres dengan
posisi semi fowler
Lain‑lain : DM dengan gangrene pada dorsal pedis, balutan luka diganti sekali sehari menggunakan prinsip steril
Pola Nutrisi
Rumah
RS
Frekuensi : 3x l hari
3x lhari
Jenis : nasi, lauk, dan sayur
Saat di rumah sakit
Frekuensi : 3x/hari
Jenis : nasi, ‑1auk, sayur, ‑buah, dan susu
Pemeriksaan fisik yang berhubungan dengan nutrisi:
Turgor
kulit : elastis
Kelembaban
mukosa mulut :
lembab
Konjungtiva
: anemis
Lain‑lain
: -
Pola Eliminasi
BAB
Rumah
Rs
Frekuensi : I x sehari I x sehari
Cara : Mandiri dibantu
Di
WC Di tempat tidur
Menggunakan : ( )
Tissue (√) Air
BAK
Rumah
Rs
Frekuensi : 6‑7x/hari 1600 cc/hari
Cara :
Mandiri dibantu
Di WC Di tempat tidur
Menggunakan: ( ) Tissue (√) Air ( ) Lain-lain
Pola
kebersihan
Rumah
Rs
Kebiasaan mandi
: 2x
sehari I x sehari
Mencuci rambut
: lx 3hari l x 3hari
Membersihkan gigi dan
mulut : I x
sehari 1 x sehari
Mengganti pakaian : I x sehari 1 x sehari
Membersihkan kaki dan
kuku :
1 x 2 minggu
1 x seminggu
Kebersihan kulit : Tidak teratur
tidak teratur
Cara
membersihkan
: Sabun
dilap dengan air
Keadaan Psikososial
1.
Konsep diri
a.
Gambaran diri : klien mengatakan malu karena pada kakinya ada luka dan mengeluarkan
bau yang tidak sedap.
b.
Peran
: klien mengatakan perannya
sebagai wanita karier.
2.
Suasana
hati : terlihat cemas, gelisah dan sering
melamun
3.
Karakter : supel, ramah, dan lemah lembut
4.
Perkembangan
mental: sesuai dengan manusia
5.
Daya
konsentrasi : klien dapat
menjawab pertanyaan dengan baik
6.
Sosialisasi
: bersosialisasi dengan keluarga dan pasien
lain
Riwayat Kesehatan Linkungan
1. Kebersihan
Rumah : klien mengatakan
rumahnya setiap hari jarang disapu
Lingkungan : klien mengatakan lingkungan
sekitar kotor dan berisik
Polusi : klien
mengatakan rumahnya dekat pabrik
Kemungkinan bahaya : dekat dengan jalan raya
Pemeriksaan Fisik
Rambut
·
Tekstur : kasar,
kusam, dan berketombe
·
Warna : hitam
·
Kebersihan
: rambut terlihat kotor
·
Distribusi : merata
·
Kulit kepala :
kulit kepala kotor
·
Gatal : klien
mengatakan kepala terasa gatal,
·
Kebersihan
: klien mengatakan sudah 5 hari belum cuci rambut,
Gigi dan mulut
·
Kelengkapan
gigi : sudah tidak lengkap dengan
jurmlah 30 buah
·
Masalah gigi : gigi
berlubang, kuning, dan kotor
·
Kebersihan
: gigi terlihat kuning, klien mengatakan sudah 2 hari belum gosok gigi.
·
Bau
mulut :
ada, klien merasa malu bicara dengan orang lain karena mulutnya bau.
Kuku tangan dan kaki
·
Bentuk kuku : normal
·
Sudut antar kuku : 180 derajat
·
Warna kuku : putih pucat
·
Kebersihan : kuku
terlihat panjang dan kotor, klien mengatakan belum memotong kuku selama 3 minggu
Genitalia
·
Kelainan : tidak ada
·
Gatal : tidak ada
·
Kemerahan : tidak ada
·
Lesi : tidak ada
·
Kebersihan : bersih
Kulit
·
Erithema : -
·
Tekstur : kasar dan kering
·
Turgor : elastis
·
Jaundice : -
·
Petechie : -
·
Sianosis : ada
·
Gatal : ada
·
Kebersihan : Kulit terlihat kotor dan lengket, klien
mengatakan sudah 2 hari belum mandi dan merasa tidak nyaman karena merasa
badannya lengket dan bau. terdapat luka pada daerah dorsal pedis dengan
diameter 9 cm kedalam 3 cm tidak ada pus, terdapat nekrosis jaringan, bau
gangren, balutan luka bersih, kondisi luka setengah kering, tidak kotor,
sekitar daerah luka kulit terlihat pucat coklat kehitaman, dan balutan luka
Kepercayaan Budaya
·
Kebiasaan : klien mengatakan jarang shalat 5 waktu
·
Pantangan : klien mengatakan tidak boleh mandi saat sakit
·
Pengetahuan : klien mengatakan tidak memehami tentang
kebersihan diri
·
lain‑lain
: -
Lain-lain
Suami
mengatakan klien
·
sering menggaruk pada bagian kaki
·
tidak dapat berjalan seperti biasa
C. Analisa data
|
No |
Data |
Masalah |
Etiologi |
|
1. |
DS: Klien mengatakan : ·
Kulit kepalanya terasa gatal ·
Sudah 3 hari belum keramas ·
selama sakit tidak boleh keramas ·
belum menggosok gigi selama 3 hari ·
malu bicara dengan orang lain
karena bau mulut ·
malas gosok gigi karena terpasang
infus ·
belum mandi selama 3 hari ·
merasa malu bertemu dengan
orang lain karena bau badan ·
belum memotong kuku selama masuk
RS ·
sudah terbiasa dengan kuku panjang DO : ·
Rambut klien terlihat acak-acakan ·
Rambut klien Lengket dan berminyak ·
Rambut klien kasar, kusam dan
berketombe ·
gigi terlihat kuning dan kotor ·
tercium bau mulut ·
kulit lengket dan kusam ·
terlihat daki pada kulit ·
kuku klien panjang ·
terdapat kotoran pada ujung kuku ·
terpasang dowe chateter ·
terpasang infus dan terdapat
balutan luka pada dorsal pedis |
Defisit
perawatan diri mandi |
Kelemahan
fisik |
|
2. |
DS: Klien mengatakan ·
Merasa nyeri pada bagian dorsal
pedis. ·
Tidak dapat menggerakan kaki
telapak kaki ·
Suami mengatakan: ·
Luka terjadi karena terkena rantai
sepeda motor ketika pergi berobat dan klien tidak merasakan sakit pada
kakinya, ·
luka tidak sembuh-sembuh selama 1
bulan, semakin hari semakin parah dan melebar DO: ·
Terdapat luka didaerah dorsal
pedis dengan diameter 9 cm kedalaman 3 cm, bau gangren, kondisi luka setengah
kering, disekitar luka kulit terlihat pucat coklat kehitaman ·
klien terlihat meringis ·
Konjungtiva anemis ·
TTV ·
TD : 120/90 mmHg ·
N : 80 x/menit ·
Rr : 28x/menit ·
S : 36,5 C |
Kerusakan
integritas kulit |
Terputusnya
kontinuitas jaringan |
D. Diagnosa
keperawatan
1.
Defisit perawatan diri mandi b.d
kelemahan fisik
2.
Kerusakan integritsa kulit b.d
terputusnya kontinuitas kulit
3.
Intoleransi aktivitas
E. Rencana
keperawatan
|
No |
dx. kep |
Noc |
Nic |
|
1. |
Defisit perawatan diri mandi b.d kelemahan fisik |
Tujuan: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam defisit perawatan diri mandi
teratasi KH: 1 ·
perawatan diri ostomi : tindakan
pribadi mempertahankan ostomi untuk eliminasi ·
perawatan diri : ktivitas kehidupan sehari hari
(adl) ·
mampu melakukan aktivitas perawatan fisik dan
pribadi secara mandiri atau dengan alat bantu ·
perawatan diri mandi : mampu untuk membersihkan diri
sendiri secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu ·
perawatan diri hygiene : mampu untuk mempertahankan
kebersihan dan penampilan yang rapih secara mandiri dengan atau tanpa alat
bantu ·
perawatan diri higiene oral : mampu untuk merawat
mulut dan gigi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu ·
mampu mempertahankan mobilitas yang diperlukan untuk
kekamar mandi dan menyediakan perlengkapan mandi ·
membersihkan dan mengeringkan tubuh ·
mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang
kebersihan tubuh dan higiene oral |
1.
Pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan
aktivitas perawatan diri 2.
Pertimbangkan usia pasien ketika mempromosikan
aktivitas perawatan diri 3.
Menentukan jumlah dan jenis bantuan yang dibutuhkan 4.
Tempat handuk, sabun, deodoran, alat pencukur, dan
asesoris lainnya yang dibutuhkan disamping tempat tidur atau dikamar mandi 5.
Menyediakan artikel pribadi yang diinginkan
(misalnya, deodoran, sikat gigi, sabun mandi, sampo, lotion, dan produk aroma
terapi ) 6.
Menyediakan lingkungan yang terapetik dengan
memastikan hangat, santai pengalaman pribadi, dan personal 7.
Memfasilitasi gigi pasien menyikat, sesuai 8.
Memantau pembersihan kuku, menurut kemampuan
perawatan diri pasien |
|
2. |
Kerusakan integritsa kulit b.d terputusnya kpntunuitas kulit |
Tujuan: Setelah
dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam kerusakan integritas kulit dapat
teratasi Kriteria
hasil : 1.
integritas kulita yang baik bisa dipertahankan
(sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) tidak ada luka atau
lesi pada kulit 2.
perfusi jaringan baik 3.
menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit
dan mencegah terjadinya cedera berulang 4.
mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban
kulit dan perawatan alami |
1.
anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang
longgar 2.
Hindari kerutan pada tempat tidur 3.
Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering 4.
Mobilisasi paien (rubah posisi pasien) setiap 2jam
sekali 5.
Monitor kulit akan adanya kemerahan 6.
Oleskan lotion atau minyak atau baby oil pada daerah
yang tertekan 7.
Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien 8.
Monitor status nutrisi pasien |
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perawatan personal hygiene adalah perawatan pada kebersihan diri seseorang.
Disini, perawat berkewajiban untuk membantu pasien yang tidak atau yang kurang
mampu merawat personal hygienenya sendiri, dengan cara menyediakan alat dan
bahan atau bahkan membantunya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas perawatan diri adalah: faktor
yang ditentukan oleh keadaan masa lalu, situasi lingkungan, lingkungan dimana
kita tinggal serta faktor-faktor pribadi. Lansia perlu mendapatkan perhatian
dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan
mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya
merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya. Sejalan dengan kemunduran
fisiknya lansia membutuhkan pertolongan dari keluarga untuk memenuhi kebersihan
diri.
B.
Saran
Diharapkan
dengan adanya makalah ini, mahasiswa/i dan pembaca sekalian dapat memberikan
perhatian terhadap lanjut usia. Pada mahasiswa/I keperawatan khususnya,
diharapkan makalah ini menjadi referensi agar dapat memberikan asuhan
keperawatan yang baik terutama pada lansia dengan gangguan personal hygiene,
serta memberikan motivasi terhadap keluarga agar mampu merawat keluarganya yang
lansia.
DAFTAR PUSTAKA
Lynda, J, Carpenito. Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta.
2017
Ida Samidah. Pengkajian Keperawatan. Makasar. 2018
Sri Rukmini, dkk. Teknik Pemeriksaan THT. EGC.
Jakarta. 2017
Budi Anna Keliat, dkk. Proses Keperawatan Kesehatan
Jiwa, EGC. Jakarta
Boles. Buku Ajar Penyakit THT. EGC. Jakarta. 2017
Mickey Stanley, dkk. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.
Edisi 2. EGC. Jakarta. 2018
Noor Kastani, S. Tamher. Kesehatan Usia Lanjut
Dengan Pendidikan Asuhan Keperawatan.
Salemba Medika. Jakarta. 2016
Sisi Maryam, S dkk. Mengenal Usia Lanjut Dan
Perawatannya. Salemba Medika. Jakarta. 2018
0 Response to "KUIDADUS ENFERMAGEM TEORIKU HIGIENE PESOAL"
Post a Comment