Graduasaun

Graduasaun
hadomi nafatin o nia prosesu

KUIDADUS ENFERMAGEM TEORIKU HIGIENE PESOAL

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri dangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan.

Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan. Dimana secara alamiah tingkat perkembangan kehidupan terdiri dari tiga tahapan yaitu, anak, dewasa, dan tua.

Sedangkan menurut UU No 4 tahun 1945 seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain disebut dengan lansia.

Seiring bertambahnya usia, kerentanan lansia terhadap penyakit kronis dan penyakit yang mengancam nyawa serta infeksi akut meningkat, dan menurunnya kekebalan tubuh memperburuk kondisi kesehatan para lansia. Kanker, penyakit jantung, diabetes, infeksi dan kesehatan mulut yang buruk, terutama kehilangan gigi dan kondisi periodontal yang parah, lebih banyak terjadi di kelompok usia ini (Gateaway, 2013). 

Dipandang dari sudut sosial, lansia dengan personal hygiene yang baik lebih dapat diterima di masyarakat dibandingkan dengan lansia yang memiliki personal hygiene yang kurang baik. Lansia dengan personal hygiene yang baikpun menurunkan resiko untuk terjadi penyakit infeksi. Kebutuhan akan personal hygiene harus menjadi prioritas utama bagi lansia, karena dengan personal hygiene yang baik maka lansia memiliki resiko yang rendah untuk mengalami penyakit infeksi(Gateaway, 2013).

Upaya pemeliharaan personal hygiene meliputi kebersihan rambut, mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, dan membersihkan gaun. Dalam upaya untuk menjaga personal hygiene ini, pengetahuan keluarga tentang pentingnya personal hygiene sangat diperlukan. Tindakan seseorang dapat dibentuk dengan pengetahuan atau kognitif, sehingga kognitif atau pengetahuan merupakan domain yang sangat penting. 

 

B.    Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian dari personal hygiene?

2.      Apa saja macam-macam personal hygiene

3.      Apa faktor yang mempengaruhi personal hygiene?

4.      Bagaimana tanda dan gejala gangguan personal hygiene?

5.      Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan personal hygiene

 

C.    Tujuan

A. Tujuan umum

      Tujuan umum dari penulisan laporan ini adalah untuk mmendaptkan gambaran nyata mengenai Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Personal Hygiene

      B. Tujuan khusus

1.      Untuk mengetahui pengertian personal hygiene

2.      Untuk mengetahui macam macam personal hygiene

3.      Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi personal hygiene

4.      Untuk mengetahui tanda dan gejala gangguan personal hygiene

5.      Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia dengan gangguan personal hygiene

6.      Untuk mengetahui perawatan lansia pasif

7.      Teori Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Personal Hygiene


BAB II

TINJAUAN TEORI

 

A.    Definisi

Menurut Tarwoto (2018) personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Pemenuhan personal hygiene diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Kebutuhan personal hygiene ini diperlukan baik pada orang sehat maupun pada orang sakit.

Praktik personal hygiene bertujuan untuk peningkatan kesehatan dimana kulit merupakan garis tubuh pertama dari pertahanan melawan infeksi Dengan implementasi tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu maka akan menambah tingkat kesembuhan pasien (Potter & Perry, 2017).

B.    Macam-macam personal hygiene

1.      Perawatan rambut

Penampilan dan kesejahteraan seseorang sering kali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Penyakit atau ketidakmampuan mencegah seseorang untuk memelihara perawatan rambut sehari-sehari. Menyikat, menyisir dan bersampo adalah cara-cara dasar hygienis untuk semua usia.

Pertumbuhan, distribusi pola rambut dapat menjadi indikator status kesehatan umum, perubahan hormonal, stress emosional maupun fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu atau obat obatan dapat mempengaruhi karakteristik rambut.

Rambut normal adalah bersih, bercahaya, dan tidak Kusut, untuk kulit kepala harus bebas dari lesi kehilangan disebabkan karena praktik perawatan yang tidak tepat atau penggunaan medikasi kemoterapi. Potter dan Perri (2017), menjelaskan mengenai masalah rambut dan kulit kepala yang sering terjadi yaitu:

a.       Ketombe

Kelepasan kulit kepala di sertai gatal pada kasus berat. Ketombe dapat di temukan di alis.

·         Implikasi

Ketombe menyebabkan seseorang menjadi malu jika ketombe masuk masuk mata berkembang menjadi konjungivitis

·         Intervensi

Bersampo secara teratur dengan sampo yang bermedikasi. Pada kasus berat, mintalah saran dokter

b.      Pediculosis (kutu)

Parasit abu-coklat. Kecil menggali liang ke dalam  kulit dan mengisap darah.

 

 

·         Implikasi

Kutu memindakan beberapa penyakitnya pada manusia. Penyakit yang paling umum  adalah demam berbintik “rocky mountain” , tularemia, dan “limy”

·         Intervensi

Jangan menarik kutu dari kulit karena alat penghisap akan tertinggal  dan dapat terinfeksi. Mematikan kutu dengan pemberian setetes minyak atau eter pada kutu atau tutupi kutu dengan jeli petroianum untuk memudahkan pengangkatan

c.       Pediculosis capitis (kutu rambut)

Parasit ditemukan pada kulit kepala yang menempel pada helai rambut. Telur terlihat seperti [artikel oval mirip ketombe. Gigitan ataupustula dapat di obsrefasikan  dibelakang telinga atau pada garis pertumbuhan rambut

·         Implikasi

Kutu rambut sulit untuk dipindahkan dan dapat menyebar ke peralatan dan orang lain jika tidak di obati.

·         Intervensi

Bersampo dengan sampo kwell dan ulangi 12-24 jam setelahnya. Ganti linen tempat tidur. Cuci linen ke dalam air panas untuk membunu kutu.

 

 

d.      Pediculosis corpolis (kutu badan)

Parasit yang melekat pada pakaian sehinnga tidak mudah terlihat. Kutu darah akan menghisap darah dan meninggalkan telur pada pakaian dan badan

·         Implikasi

Klien gatal terus menerus, goresan terlihat pada kulit dapat terindeksi. Bintik hemorogik dapat terlihat  pada kulit dimana kutu menghisap darah.

·         Intervensi

Mandi keseluruan setelah kulit kering, gunakan lotion kwell. Setelah 12-24 jam , mandi lagi. Bungkus pakaian atau linen yang  terdapat kutu tersebut sampai di cuci dalam air panas. Bersihkan keseluruan dan buang kantong setelah selesai.

e.       Pediculosis pubis (kuku kepiting)

Parasit di temukan pada ranbut pubis. Kutu kepiting berwarna putih-keabuan dan  kaki berwarna merah

·         Implikasi

Kutu dapat  menyebar melalui liner tempat tidur pakaian, atau pakaian atau diantara orang melalui kontak seksual

·         Intervensi

Cukur rambut pada daeraht yang terinfeksi. Intervensi pembersian seperti  pada interfensi untuk kutu badan. Jika kutu ditransmisi melalui kontak seksual beritahula pasangan

f.        Kehilangan rambut (alopesia)

Alopasia terjadi pada semua ras. Bidang pembotakan terlihat pada bagian perifer garis rambut. Rambut menjadi rapuh  dan patah, kondisi ini di sebabkan  pengguna pengeriting rambut, produk rambut, pengikat rambut ketat dan menggunakan sisir  panas

·         Implikasi

Bidang-bidang pertumbuhan  dan kehilangan rambut yang tidak merata  mengubah penampilan klien

·         Interverensi

Hentikan praktik perawatan

2.      Perawatan mata, telinga dan hidung

Seseorang hanya memerlukan untuk memindahkan sekresi kering yang terkumpul kepada kantus sebelah, dalam bulu mata hygiene telinga mempunyai implikasi ketajaman pendengaran sebasea lilin atau benda asing berkumpul pada kanal telinga luar yang mengganggu konduksi suara.

Khususnya pada lansia rentan masalah. Hidung memberikan temperatur dan kelembaban udara yang pernafasan dihirup serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam sistem kumulasi sekresi yang mengeras di dalam nares dapat merusak sensasi olfaktori dan pernafasan (Potter dan Perry, 2017).

 

 

3.      Perawatan Kulit

Kondisi kulit tergantung pada praktek hygiene dan paparan iritan lingkungan, sejalan dengan usia, kulit kehilangan layak kenyal dan kelembaban, pada kelenjar sebasea dan keringat menjadi kurang aktif. Epitalium menipis dan serabut kolagen elastik, menyusut sehingga kulit mudah pecah. Perubahan ini merupakan peringatan ketika bergerak dan mengatur posisi pada lansia.

Khas kulit lansia adalah kering dan berkerut, masalah kulit yang umum yaitu kulit kering, jerawat, hirsutisme dan suam. Kulit tujuan dari membersihkan kulit dengan mandi yaitu; membersihkan kulit, stimulasi sirkulasi, citra diri, pengurangan bau badan dan peningkatan rentang gerak. Tipe mandi yang terapeutik terdiri dari mandi bak mandi air panas, mandi bak air hangat, mandi bak air dingin, berendam dan rendam duduk (Potter dan Perry, 2005).

 

4.      Perawatan Kaki, Tangan dan Kuku

Kaki dan kuku sering kali memerlukan perawatan khusus untuk mencegah infeksi, bau dan cedera pada jaringan. Perawatan dapat digabungkan pada saat mandi atau pada waktu yang terpisah. Masalah yang timbul bukan karena perawatan yang salah atau kurang terhadap kaki dan tangan seperti menggigit kuku atau memotong yang tidak tepat.    Pemaparan dengan zat-zat kimia yang tajam dan pemakaian sepatu yang tidak pas. Ketidaknyamanan dapat mengarah pada stres fisik dan emosional (Potter dan Perry, 2005).

 

C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi personal hygiene pada lansia adalah :

1.      Faktor Pengetahuan

Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan, pengetahuan tersebut dapat bersifat intelektual (cara berpikir, berabstrak, analisa, memecahkan masalah dan lain-lain). Yang meliputi pengetahuan (knowledge), pemahaman (comperehension), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesis (synthesis) dan evaluasi (evaluation). Individu dengan pengetahuan tentang pentingnya kebersihan diri akan selalu menjaga kebersihan dirinya untuk mencegah dari kondisi / keadaan sakit.

2.      Kondisi Fisik Lansia dan Psikis Lansia

Semakin lanjut usia seseorang, maka akan mengalami kemunduran terutama di bidang kemampuan fisik, yang dapat mengakibatkan penurunan peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan timbulnya gangguan di dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dapat meningkatkan bantuan orang lain (Nugroho, 2018).

Menurut Zainudin (2019) penurunan kondisi psikis pada lansia bisa disebabkan karena Demensia di mana lansia mengalami kemunduran daya ingat dan hal ini dapat mempengaruhi ADL (Activity of Daily Living yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri), dimulai dari bangun tidur, mandi berpakaian dan seterusnya.

3.      Faktor Ekonomi

Besar pendapatan keluarga akan mempengaruhi kemampuan keluarga untuk menyediakan fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk menunjang hidup dan kelangsungan hidup keluarga.

4.      Faktor Budaya

Kebudayaan dan nilai pribadi mempengaruhi kemampuan perawatan hygiene. Seorang dari latar belakang kebudayaan berbeda memiliki praktik perawatan diri yang berbeda. Keyakinan yang didasari kultur sering menentukan definisi tentang kesehatan dan perawatan diri (Potter dan Ferry, 2017).

5.      Faktor Lingkungan

Lingkungan mencakup semua faktor fisik dan psikososial yang mempengaruhi atau berakibat terhadap kehidupan dan kelangsungan hidup lingkungan berpengaruh terhadap kemampuan untuk meningkatkan dan mempertahankan status fungsional, dan meningkatkan kesejahteraan (Potter dan Ferry, 2017)

6.      Faktor Citra Tubuh

Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Personal hygiene yang baik akan mempengaruhi terhadap peningkatan citra tubuh individu (Stuart & Sundeen, 2016 dalam Setiadi 2018)

 

 

7.      Faktor Peran Keluarga

Keluarga secara kuat mempengaruhi perilaku sehat setiap anggotanya begitu juga status kesehatan dari setiap individu mempengaruhi bagaimana fungsi unit keluarga dan kemampuan untuk mencapai tujuan. Pada saat kepuasan keluarga terpenuhi tujuannya melalui fungsi yang adekuat, anggota keluarga tersebut cenderung untuk merasa positif mengenai diri mereka sendiri dan keluarga mereka (Potter dan Ferry, 2017).

 

D.    Tanda dan gejala

Menurut Depkes (2016: 20) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:

1.      Fisik

Badan bau, pakaian kotor, Rambut dan kulit kotor, Kuku panjang dan kotor, Gigi kotor disertai mulut bau, Penampilan tidak rapi.

2.      Psikologis

Malas, tidak ada inisiatif, Menarik diri, isolasi diri, Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.

3.      Sosial

Interaksi kurang, Kegiatan kurang, Tidak mampu berperilaku sesuai norma, Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.

 

E.    Gangguan personal hygiene pada lansia

Memenuhi kebutuhan kebersihan diri pada lansia adalah suatu tindakan perawatan sehari – hari yang harus diberikan kepada klien lanjut usia terutama yang berhubungna dengan kebershan perorangan (Personal Hygiene), yaitu antara lain kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan kepala, rambut dan kuku, serta kebersihan tempat tidur dan posisi tidur (Nugror, 2016).

Perawatan secara umum bagi lansia terbagi 2, yaitu:

1.      Mereka yang masih aktif

Dimana keadaan fisiknya mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga kebutuhan sehari – hari dapat terenuhi.

2.      Mereka yang pasif

Mereka yang keadaan fisiknya memerlukan pertolongan orang lain, seperti sakit atau lumpuh.

 

F.     Perawatan lansia aktif

Bagi mereka yang masih aktif, hal –hal yang perlu di perhatikan antara lain:

1.      Mandi

Mandi agar dibatasi karena kulit lansia biasanya mengering. Hal ini disebabkan kelenjar kulit yang mengeluarkan lemak mulai kurang bekerja. Maka sehabis mandi kulit lansia sebaiknya diolesi baby oil terutama di lengan, siku, ketiak, paha, dan sebagainya.

2.      Kebersihan mulut

Kebersihan mulut adalah sangat penting. Perlu diingat atau dibantu para lansia untuk menyikat gigi yang hanya tinggal beberapa buah. Gigi palsu perlu mendapat perhatian khusus, dibersihkan dengan sabun dan sikat. Untuk menghilangkan bau gigi palsu direndam dalam air hangat yang telah dibubuhi obat pembersih mulut beberapa tetes selama 5 – 10 menit, setelah itu bilas sampai bersih dari sabun dan bubuk pembersih mulut tersebut.

3.      Perawatan rambut

Lanjut usia terutama wanita kadang – kadang mengalami kesulitan dalam mencuci rambut sehingga perlu mendapat bantuan perawat atau ank cucunya. Sama halnya dengan kulit, rambut orang lansia juga kehilngan lemaknya sehingga sehabis keramas perlu diberi conditioner. Setelah selesai mencuci rambut harus segera dikeringkan agar lansia tidak kedinginan.

4.      Perawatan kuku

Kuku jari tangan dan kaki perlu mendapatkan perawatan, Menggunting kuku jangan terlalu pendek dan jangan sampai terluka karena luka pada orang tua lebih sulit sembuh.

5.      Pakaian

Pakaian hendaknya jangan terbuat dari bahan yang kasar. Dasar pakainan harus lunak, harus mudah dikenakan dan dibersihkan. Pakaian lansia dijaga agar tetap rapi karena cenderung para lansia tidak peduli lagi terhadap pakaiannya. Lansia lebih enak dengan piyama tipis jangan pakaian dari wool karena bias terjadi iritasi.

6.      Mata

Elastisitas lensa mata pada lansia berkurang akibatnya tulisan kecil terlihat kabur pada jarak normal, sedangkan pada jarak jauh akan terlihat terang. Gejala yang tidak normal antara lain:

a.           Penglihatan menjadi ganda

b.          Bintik hitam atau ada daerah yang gelap

c.           Sakit pada mata

d.          Terlihat ada warna atau terang disekitar ujung – ujung objek

e.           Mata yang kemerahan

f.            Tiba – tiba kehilangan melihat dengan jelas

 

 

7.      Lingkungan

Suasana lingkungan harus disesuaikan. Bila memungkinkan jagalah kelembapan ruang tidur atau ruangan lainnya dirumah dengan memasang humidifier. Perubahan temperature secara tiba – tiba harus dihindarkan.

 

G.    Perawatan lansia pasif

Bagi lansia yang terus beristirahat di tempat tidur, kebersihan di tempat tidur perlu tetap diperhatikan, yaitu:

a.       Diusahakan agar bantal tidak terlalu keras atau lembek

b.      Latihan bangun dan tidur dengan usaha sendiri agar otot badan tetap aktif dan menghindarkan pegal – pegal serta atrofi otot

c.       Letak tidur diatur antara lain :

·         Letak guling dibawah lutut.

·         Berikan bantal angin yang berbentuk cincin untuk mencegah lecet pada tumit dan bokong.

·         Letak tidur dimiringkan bergantian pada sisi kana atau kiri.

·         Pada letak atau posisi setengah duduk, di bagian kepala tempat tidur diberi sandaran atau papah.


H.  Teori Asuhan Keperawatan Pada Lansia Dengan Gangguan Personal Hygiene

A.    Pengkajian

Tanggal pengkajian :                                                     Jam :

·         Data biografi

Terdapat : Nama, Tempat dan tanggal lahir, pendidikan terakhir, Agama, Status, TB/BB, penampilan, ciri-ciri tubuh, Alamat, Orang yang dekat dihubungi, Hubungan dengan usia, Alamat.

·         Riwayat Keluarga

Genogram :

Keterangan :

·         Riwayat Pekerjaan

Terdapat pekerjaan saat ini, Alamat pekerjan, Jarak dari rumah, Alat transportasi, Pekerjaan sebelumnya, Berapa jarak dari rumah, sumber-sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan.

·         Riwayat Lingkungan Hidup

Type tempat tinggal, Jumlah kamar, kondisi tempat tingal, jumlah orang yang tinggal dirumah, Derajat privasi, Tetangga terdekat, Alamat/telpon.

·         Riwayat rekreasi

Hobby/minat, Keangotaan organisasi, Liburan perjalanan.

·         Sistem pendukung

Perawat/bidang /dokter/fisioterapi, jarak dari rumah, pelayanan kesehatan dirumah, makanan yang dihantarkan, perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga.

·         Diskripsi Kekhususan

Kebiasaan ritual,

·         Status Kesehatan

Status kesehatan umum selama setahun yang lalu, status kesehatan umum selama 5 tahun yang lalu, keluhan utama (provocative/palliative, quality/quantity, region, severity scale, timming, pemahaman dan penatalaksanaan masalah kesehatan.

Keluhan Utama :

Keluhan yang dirasakan klien pada saat pengkajian.

Penatalaksanaan masalah kesehatan :

Tindakan yang dilakukan klien saat sakit.

Obat-Obat yang pernah diterima klien menurut catatan di pelayanan kesehatan .

Pola persepsi pemeliharaan kesehatan

Selama ini klien tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan kesehatan seperti merokok atau minum-minuman keras.

Alergi : klien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan serta suaca  yang extrim.

 

 

B. Masalah keperawatan

Masalaha yang di alami pasien

C. Diagnose keperawatan

Mengambil diagnose berdasarkan analisa data

D. Intervensi

Planing tindakan apa yang akan dilakukan kepada pasien

E. Evaluasi

Evaluasi disusun mengunakan SOAP secara operasional dengan sumatif (dilakukan selama proses asuhan keperawatan) dan formatif (dengan proses dan evaluasi akhir).

Evaluasi dapat menjadi 2 jenis yaitu :

1.      Evaluasi berjalan (sumatif)

Evaluasi jenis ini dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. Format yang dipakai adalah format SOAP.

2.      Evaluasi akhir (formatif)

Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungking semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditijau kembali, agar didapat data-data masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

 

A.    Kasus

Ny.E, 51 tahun dirawat di rumah sakit HNGV, sejak 2 minggu yang lalu dengan diagnosa medis DM dengan gangrene pada dorsal pedis. Dari hasil pengkajian didapatkan data kesadaran kompos mentis, TD=120/90mmHg, suhu 36,5 c˚, RR=20x/ menit. Klien mengeluh lemas, pusing, dan merasa sakit pada daerah kaki yang ada luka serta tidak dapat menggerakannya. Klien juga mengatakan belum mencuci rambut dan menggosok gigi serta memotong kuku selama berada diruangan. Mandi dilakukan setiap dua kali sehari dengan cara dilap tanpa menggunakan sabun dengan di bantu keluarga. Klien mempunyai pemahaman dan keyakinan bahwa selama sakit tidak boleh mandi dan mencuci rambut. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data rambut klien kotor, lengket dan berminyak, saat berbicara tercium bau, gigi terlihat kuning dan kotor, kulit terlihat kotor dan tidak bercahaya, kuku panjang dan kotor. Kebutuhan aktivitas sehari – hari dibantu seluruhnya oleh anggota keluarga dan perawat. Klien juga terpasang dowe kateter dan infuse RL tetes/ menit. Balutan luka diganti setiap satu kali sehari dengan menggunakan prinsip steril. Nafsu makan klien baik dimana klien mampu menghabiskan makanan yang telah disediakan dirumah sakit.

 

B.    Pengkajian

Tanggal Masuk                 : 02 Desember 2021

Jam Masuk                        : 09.00

Ruang/Kelas                      Lt. IV/3

No.Kamar                         : 137

No.Register                       0809

 

Data demografi

Nama Pasien                     : Ny.E

Tempat/tanggal lahir         : kaikoli,10 desember 1960

Umur                                : 51

Jenis Kelamin                   : Perempuan

BB/TB                               : 55 Kg/158 cm

Status Perkawinan             : Kawin

Agama                               : katolik

Suku Bangsa                     : Timor-Leste

Pendidikan                                    : SMA

Pekerjaan                           : Pedagang

Alamat Rumah                  : Avenida st Antonio

Alamat Kantor                  : Plaza timor

Sumber Biaya                   : Suami

Nama Suami                      : Munajar

Pendidikan Suami             : SMA

Pekerjaan                           : SATPAM

 

Riwayat kesehatan

a.    Tanggal mulai sakit

18 November 2021

b.    Riwayat penyakit sekarang       

Klien datang ke rumah sakit dengan kondisi

terdapat luka pada daerah tungkai kaki kiri. Suami klien mengatakan luka disebabkan karena terkena rantai sepeda motor ketika perjalanan berobat ke dokter 1 bulan yang lalu. Klien mengatakan saat kejadian tersebut klien sama sekali tidak merasakan sakit pada kakinya. karena luka dirasa tidak sembuh-sembuh dan semakin melebar, kemudian klien dibawa ke RSUP Fatmawati Jakarta

c.    Diagnosa medis                      

DM dengan ganngrene pada dorsal pedis dengan balutan luka harus diganti setiap 1x sehari dengan prinsip steril

d.    Keluhan                                   

Klien mengeluh lemas, pusing dan merasa sakit pada daerah dorsal pedis yang ada luka serta tidak dapat menggerakannya dan klien terlihat meringi

e.    Cara masuk RS

·      Brankar     : Klien masuk Rs dengan bantuan brankar

·      Kursi         : -

·      Lain-lain    : -

f.      Lain-lain          : Oksigen 2 liter/manit,  dower chateter dan infuse terpasang sejak 3 desember sampai 13 desember 2011.

 

Pola kebiasaan sehari-hari

Pola Aktivitas

Di rumah   : Melakukan aktivitas seperti biasa

Di RS        : Dibantu seluruhnya oleh keluarga dan perawat

 

Pengkajian fisik yang berhubungan dengan aktivitas :         

Kekuatan   otot     : Tidak dikaji

Paralis                    Tidak dikaji

Terapi bedrest       : bedredengan posisi semi fowler

Lain‑lain                DM dengan gangrene pada dorsal pedis, balutan luka diganti  sekali sehari menggunakan prinsip steril

 

Pola Nutrisi

Rumah                                                                   RS

Frekuensi               : 3x l hari                                 3x lhari

Jenis                      : nasi, lauk, dan sayur                        

Saat di rumah sakit

Frekuensi               : 3x/hari

Jenis                      : nasi, ‑1auk, sayur, ‑buah, dan susu                                                        

 

 

 

 

Pemeriksaan fisik yang berhubungan dengan nutrisi:

Turgor kulit                                   : elastis

Kelembaban mukosa mulut           : lembab

Konjungtiva                                  : anemis

Lain‑lain                                        : -

 

Pola Eliminasi

BAB                 

              Rumah                                   Rs

Frekuensi               I x sehari                               I x sehari

Cara                       : Mandiri                                 dibantu

             Di WC                                    Di tempat tidur

Menggunakan       : (  ) Tissue (√) Air

BAK

Rumah                 Rs

Frekuensi   : 6‑7x/hari                   1600 cc/hari

Cara          : Mandiri                      dibantu           

   Di WC                      Di tempat tidur

Menggunakan: (  ) Tissue (√) Air  (  ) Lain-lain

 

Pola kebersihan

       Rumah                           Rs

Kebiasaan mandi                                 : 2x sehari                    I x sehari

Mencuci rambut                                  : lx 3hari                      l x 3hari

Membersihkan gigi dan mulut            : I x sehari                   1 x sehari

Mengganti pakaian                              : I x sehari                   1 x sehari

Membersihkan kaki dan kuku             : 1 x 2 minggu             1 x seminggu

Kebersihan kulit                                  : Tidak teratur             tidak teratur

Cara membersihkan                             : Sabun                        dilap dengan air

 

Keadaan Psikososial

1.      Konsep diri

a.       Gambaran diri       : klien mengatakan malu karena pada kakinya ada luka   dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

b.      Peran                     : klien mengatakan perannya sebagai wanita karier.

2.      Suasana hati                : terlihat cemasgelisah dan sering melamun

3.      Karakter                      supel, ramah, dan lemah lembut

4.      Perkembangan mental: sesuai dengan manusia

5.      Daya konsentrasi         : klien dapat menjawab pertanyaan dengan baik

6.      Sosialisasi                    : bersosialisasi dengan keluarga dan pasien lain

 

 

 

Riwayat Kesehatan Linkungan

1.      Kebersihan

Rumah                         : klien mengatakan rumahnya setiap hari jarang disapu

Lingkungan                 : klien mengatakan lingkungan sekitar kotor dan berisik

Polusi                          : klien mengatakan rumahnya dekat pabrik

Kemungkinan bahaya : dekat dengan jalan raya

 

Pemeriksaan Fisik

Rambut

·         Tekstur                  : kasar, kusam, dan berketombe

·         Warna                    : hitam

·         Kebersihan            : rambut terlihat kotor

·         Distribusi               : merata

·         Kulit kepala           : kulit kepala kotor

·         Gatal                      : klien mengatakan kepala terasa gatal,

·         Kebersihan            : klien mengatakan sudah 5 hari belum cuci rambut,

 

 

 

 Gigi dan mulut

·         Kelengkapan gigi  : sudah tidak lengkap dengan jurmlah 30 buah

·         Masalah gigi          : gigi berlubang, kuning, dan kotor

·         Kebersihan            : gigi terlihat kuning, klien mengatakan sudah 2 hari belum gosok gigi.

·         Bau mulut             : ada, klien merasa malu bicara dengan orang lain karena mulutnya bau.

 

Kuku tangan dan kaki

·         Bentuk kuku               normal

·         Sudut antar kuku        180 derajat

·         Warna kuku               putih pucat

·         Kebersihan                 : kuku terlihat panjang dan kotor, klien mengatakan belum memotong kuku selama 3 minggu

 

Genitalia

·         Kelainan                     tidak ada

·         Gatal                          : tidak ada

·         Kemerahan                 tidak ada

·         Lesi                            : tidak ada

·         Kebersihan                 bersih

 

Kulit

·         Erithema                     : -

·         Tekstur                       kasar dan kering

·         Turgor                        elastis

·         Jaundice                     : -

·         Petechie                      : -

·         Sianosis                      ada

·         Gatal                          : ada

·         Kebersihan                 : Kulit terlihat kotor dan lengket, klien mengatakan sudah 2 hari belum mandi dan merasa tidak nyaman karena merasa badannya lengket dan bau. terdapat luka pada daerah dorsal pedis dengan diameter 9 cm kedalam 3 cm tidak ada pus, terdapat nekrosis jaringan, bau gangren, balutan luka bersih, kondisi luka setengah kering, tidak kotor, sekitar daerah luka kulit terlihat pucat coklat kehitaman, dan balutan luka

 

Kepercayaan Budaya

·         Kebiasaan        : klien mengatakan jarang shalat 5 waktu

·         Pantangan       : klien mengatakan tidak boleh mandi saat sakit

·         Pengetahuan    : klien mengatakan tidak memehami tentang kebersihan diri

·         lain‑lain           : -

Lain-lain

Suami mengatakan klien

·         sering menggaruk pada bagian kaki

·         tidak dapat berjalan seperti biasa

 

C.    Analisa data

No

Data

Masalah

Etiologi

1.

DS:

Klien mengatakan :

·         Kulit kepalanya terasa gatal

·         Sudah 3 hari belum keramas

·         selama sakit tidak boleh keramas

·         belum menggosok gigi selama 3 hari

·         malu bicara dengan orang lain karena bau mulut

·         malas gosok gigi karena terpasang infus

·         belum mandi selama 3 hari

·         merasa  malu bertemu dengan orang lain karena bau badan

·         belum memotong kuku selama masuk RS

·         sudah terbiasa dengan kuku panjang

 

DO :

·         Rambut klien terlihat acak-acakan

·         Rambut klien Lengket dan berminyak

·         Rambut klien kasar, kusam dan berketombe

·         gigi terlihat kuning dan kotor

·         tercium bau mulut

·         kulit lengket dan kusam

·         terlihat daki pada kulit

·         kuku klien panjang

·         terdapat kotoran pada ujung kuku

·         terpasang dowe chateter

·         terpasang infus dan terdapat balutan luka pada dorsal pedis

Defisit perawatan diri mandi

Kelemahan fisik

2.

DS:

Klien mengatakan

·         Merasa nyeri pada bagian dorsal pedis.

·         Tidak dapat menggerakan kaki telapak kaki

 

·         Suami mengatakan:

·         Luka terjadi karena terkena rantai sepeda motor ketika pergi berobat dan klien tidak merasakan sakit pada kakinya,

·         luka tidak sembuh-sembuh selama 1 bulan, semakin hari semakin parah dan melebar

 

DO:

·         Terdapat luka didaerah dorsal pedis dengan diameter 9 cm kedalaman 3 cm, bau gangren, kondisi luka setengah kering, disekitar luka kulit terlihat pucat coklat kehitaman

·         klien terlihat meringis

·         Konjungtiva anemis

·         TTV

·         TD : 120/90 mmHg

·         N   : 80 x/menit

·         Rr  : 28x/menit

·         S    : 36,5 C

Kerusakan integritas kulit

Terputusnya  kontinuitas jaringan

 

 

D.    Diagnosa keperawatan

1.         Defisit perawatan diri mandi b.d kelemahan fisik

2.         Kerusakan integritsa kulit b.d terputusnya kontinuitas kulit

3.         Intoleransi aktivitas

 

E.    Rencana keperawatan

No

dx. kep

Noc

Nic

1.

Defisit perawatan diri mandi b.d kelemahan fisik

Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam defisit perawatan diri mandi teratasi

 

KH:

1

·         perawatan diri ostomi : tindakan pribadi mempertahankan ostomi untuk eliminasi

·         perawatan diri : ktivitas kehidupan sehari hari (adl)

·         mampu melakukan aktivitas perawatan fisik dan pribadi secara mandiri atau dengan alat bantu

·         perawatan diri mandi : mampu untuk membersihkan diri sendiri secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu

·         perawatan diri hygiene : mampu untuk mempertahankan kebersihan dan penampilan yang rapih secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu

·         perawatan diri higiene oral : mampu untuk merawat mulut dan gigi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu

·         mampu mempertahankan mobilitas yang diperlukan untuk kekamar mandi dan menyediakan perlengkapan mandi

·         membersihkan dan mengeringkan tubuh

·         mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang kebersihan tubuh dan higiene oral

1.        Pertimbangkan budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan diri

2.        Pertimbangkan usia pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan diri

3.        Menentukan jumlah dan jenis bantuan yang dibutuhkan

4.        Tempat handuk, sabun, deodoran, alat pencukur, dan asesoris lainnya yang dibutuhkan disamping tempat tidur atau dikamar mandi

5.        Menyediakan artikel pribadi yang diinginkan (misalnya, deodoran, sikat gigi, sabun mandi, sampo, lotion, dan produk aroma terapi )

6.        Menyediakan lingkungan yang terapetik dengan memastikan hangat, santai pengalaman pribadi, dan personal

7.        Memfasilitasi gigi pasien menyikat, sesuai

8.        Memantau pembersihan kuku, menurut kemampuan perawatan diri pasien

 

2.

Kerusakan integritsa kulit b.d terputusnya kpntunuitas kulit

Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan selama 3 x 24 jam kerusakan integritas kulit dapat teratasi

 

Kriteria hasil :

1.      integritas kulita yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) tidak ada luka atau lesi pada kulit

2.      perfusi jaringan baik

3.      menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang

4.      mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

1.     anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar

2.     Hindari kerutan pada tempat tidur

3.     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

4.     Mobilisasi paien (rubah posisi pasien) setiap 2jam sekali

5.     Monitor kulit akan adanya kemerahan

6.     Oleskan lotion atau minyak atau baby oil pada daerah yang tertekan

7.     Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

8.     Monitor status nutrisi pasien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Perawatan personal hygiene adalah perawatan pada kebersihan diri seseorang. Disini, perawat berkewajiban untuk membantu pasien yang tidak atau yang kurang mampu merawat personal hygienenya sendiri, dengan cara menyediakan alat dan bahan atau bahkan membantunya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas perawatan diri adalah: faktor yang ditentukan oleh keadaan masa lalu, situasi lingkungan, lingkungan dimana kita tinggal serta faktor-faktor pribadi. Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri, yang tentunya merupakan kewajiban dari keluarga dan lingkungannya. Sejalan dengan kemunduran fisiknya lansia membutuhkan pertolongan dari keluarga untuk memenuhi kebersihan diri.

B.    Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini, mahasiswa/i dan pembaca sekalian dapat memberikan perhatian terhadap lanjut usia. Pada mahasiswa/I keperawatan khususnya, diharapkan makalah ini menjadi referensi agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang baik terutama pada lansia dengan gangguan personal hygiene, serta memberikan motivasi terhadap keluarga agar mampu merawat keluarganya yang lansia.


DAFTAR PUSTAKA

 

Lynda, J, Carpenito. Diagnosa Keperawatan. EGC. Jakarta. 2017

Ida Samidah. Pengkajian Keperawatan. Makasar. 2018

Sri Rukmini, dkk. Teknik Pemeriksaan THT. EGC. Jakarta. 2017

Budi Anna Keliat, dkk. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC. Jakarta

Boles. Buku Ajar Penyakit THT. EGC. Jakarta. 2017

Mickey Stanley, dkk. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2018

Noor Kastani, S. Tamher. Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendidikan Asuhan  Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2016

Sisi Maryam, S dkk. Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Salemba Medika. Jakarta. 2018

 

0 Response to "KUIDADUS ENFERMAGEM TEORIKU HIGIENE PESOAL"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel