Graduasaun

Graduasaun
hadomi nafatin o nia prosesu

KONSEP LANSIA DAN PENYAKIT REMATIK


 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

2.1.  Kosep Lansia dan Penyakit Rematik

2.1.1. Definisi lansia 

Menua adalah proses menghilangnya secara perlahan aktifitas jaringan untuk memperbaiki atu mengganti diri dan mempertahankan strukrur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang dide rita (Darmojo,2010).

2.1.2. Batasan Umur Lansia 

Batasan umur menurut organisasi WHO ada 4 tahap lansia meliputi : usia pertengahan (Middle age )= kelompok usia 45-59 tahun, usia lanjut (Elderly)= antara 60-74 tahun, usia lanjut tua (Old)= antara 75-90 tahun, dan usia sangat tua (Very Old)=diatas 90 tahun. Di indonesia batasan mengenai lansia adalah 60 tahun ke atas, terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang kesejahtereraan lanjut usia pada Bab 1 pasal 1 ayat 2 Menurut undang-undang tersebut diatas lanjut adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria maupun wanita (Kurhariyadi,2011).

2.1.3.  Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

a. Menurut Nugroho (2000) Perubahan Fisik pada lansia adalah :

1.  Sel

Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.

2. Sistem Persyarafan

Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat otak menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh terhadap dingin rendah, kurang sensitive terhadap sentuhan.

3. Sistem Penglihatan

Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis, daya membedakan warna menurun.

4. Sistem Pendengaran Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara atau nada yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.

5. Sistem Cardiovaskuler

Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan jantung menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi perubahan posisidari tidur ke duduk (duduk ke berdiri)bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65mmHg dan tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistole normal ±170 mmHg, diastole normal ± 95 mmHg.

6. Sistem pengaturan temperatur tubuh

Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi beberapa factor yang mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain: Temperatur tubuh menurun, keterbatasan  reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.

7. Sistem Respirasi

Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan kedalaman nafas turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya aktifitas silia), O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak berganti.

8. Sistem Gastrointestinal

Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi absorbsi menurun.

9. Sistem urinaria

Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun sampai 200 mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi atrofi vulva, selaput lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi seksual intercrouse berefek pada seks sekunder.

10. Sistem Endokrin

Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH, FSH, LH), penurunan sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen, progesterone, dan testoteron.

11. Sistem Kulit

Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya, perubahan pada bentuk sel epidermis.

12. System Muskuloskeletal

Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot mudah kram dan tremor.

b. Perubahan psikososial

1. Penurunan Kondisi Fisik

Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda ( multiple pathology ), misalnya tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan  lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.

2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual

Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung, gangguan metabolisme, misal diabetes millitus, vaginitis, baru selesai operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang, penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer. Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :

a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.

b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya. 

c.  Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.

d. Pasangan hidup telah meninggal.

e. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.

3. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas. Dalam kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah).

Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya.

4. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.  Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar.

 

2.2. Rematik

2.2.1. Pengertian Rematik

Rematik adalah orang yang menderita rheumatism (encok), arthritis (radang sendi) yang menyebabkan pembengkakan, (Utomo2005). Penyakit rematik meliputi cakupan dari penyakit yang dikarakteristikkan oleh kecenderungan untuk mengefek tulang, sendi, dan jaringan lunak (Soumya,2011).Berdasarkan definisi diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa penyakit rematik adalah penyakit sendi yang disebabkan oleh peradangan pada persendian sehingga tulang sendi mengalami  destruksi dan deformitas serta menyebabkan  jaringan ikat akan mengalami degenerasi yang akhirnya semakin lama semakin parah.

2.2.2 Klasifikasi Rematik

Ditinjau dari lokasi patologis maka jenis rematik tersebut dapat dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu: rematik artikular dan rematik non artikular. Rematik Artikular atau Arthritis (radang sendi) merupakan gangguan rematik yang berlokasi pada persendian, diantaranya meliputi Arthritis Rheumatoid, Osteoarthritis, Olimiagia Reumatik, Artritis gout.Rematik non artikular arau ekstra artikular yaitu gangguan rematik yang disebabkan oleh proses diluar persendian diantaranya Bursitis, Fibrositis, Sciatica (Hembing,2006). Rematik dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan yaitu:

a. Osteoatritis

Penyakit ini merupakan kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi,dan hambatan gerak pada sendi-sendi tangan dan sendi besar menananggung beban.

b. Artritis Rematoid

Arthritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama Poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien Atritis Rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.

c. Olimialgia Reumatik

Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu, dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun keatas.

 

d. Artritis gout

Suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, Artritis akut. Penyakit ini terjadi pada pria dan wanita pada usia pertengahan.

2.2.3. Etiologi Rematik

Penyebab rematik hingga saat ini masih belum terungkap, Namun beberapa resiko untuk timbulnya rematik diantara lain adalah:

a. Umur

Dari semua faktor resiko timbulnya rematik, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya rematik semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Rematik terjadi pada usia lanjut.

b. Jenis kelamin

Wanita lebih sering terkena rematik pada lutut dan pria lebih sering terkena pada paha, pergelangan tangan dan leher.

c. Genetik

Faktor herediter juga berperan timbulnya rematik miaslnya pada seorang ibu dari seorang wanita dengan rematik pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering rematik pada sendi tersebut. Anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibuknya.

d. Suku

Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada rematik nampakya terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya rematik paha lebih jarang diantara orang berkulit hitam dengan orang berkulit putih dan usia dari pada kaukasia. Rematik lebih sering dijumpai pada orang-orang asli amerika dari pada orang berkulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainanan kongenital dan pertumbuhan.

e. Kegemukan (Obesitas)

Berat badan berlebihan berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya rematik pada pria dan wanita. Karena menahan beban berat badan sehinga mengangu sendi.

 

 

2.2.4. Manifestasi Klinis

a. Nyeri pada anggota gerak.

b. Kelemahan otot.

c. Peradangan dan bengkak pada sendi.

d. Kekakuan sendi.

e. Kejang dan kontraksi pada otot.

f. Gangguan fungsi.

g. Sendi berbunyi (Krepitasi)

h. Sendi goyah.

i. Timbulnya perubahan bentuk (Deformitas).

j. Timbulnya benjolan nodul.  (Soumya,2011)

2.2.5. Patofisiologi

Peradangan AR berlangsung terus-menerus dan menyebar ke struktur-struktur sendi dan sekitarnya termasuk tulang rawan sendi dan kapsul fibrosa sendi. Ligamentum dan tendon meradang. Peradangan ditandai oleh penimbunan sel darah putih, pengaktivan komplemen, fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan parut. Peradangan kronik akan menyebabkan membran sinovium hipertrofi dan menebal sehingga terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan nekrosis sel dan respons peradangan berlanjut. Sinovium yang menebal kemudian dilapisi oleh jaringan granular yang disebut panus. Panus dapat menyebar ke seluruh sendi sehingga semakin merangsang peradangan dan pembentukan jaringan parut. Proses ini secara lambat merusak sendi dan menimbulkan nyeri hebat serta deformitas.

 

2.2.6. Pemeriksaan Penunjang

Untuk menyokong diagnosa (ingat bahwa ini terutama merupakan diagnosa klinis) 

1. Tes serologik

2. rematoid – 70% pasien bersifat seronegatif. Catatan: 100% dengan factor rematoid yang positif jika terdapat nodul atasindroma Sjogren.

3. Antibodi antinukleus (AAN)- hasil yang positif terdapat pada kira-kira 20 kasus.

4. Foto sinar X pada sendi-sendi yang terkena, perubahan perubahan yang dapat di temukan adalah:

- Pembengkakan jaringan lunak

-  Penyempitan rongga sendi

-  Erosi sendi

- Osteoporosis juksta artikule

5.  Untuk menilai aktivitas penyakit:

1) Erosi progresif pada foto sinar X serial.

2) LED. Ingat bahwa diagnosis banding dari LED yang

meningkat pada artritisreumatoid meliputi : 

- penyakit aktif

- amiloidosis 

- infeksi 

- sindroma Sjorgen ;

3) Anemia : berat ringannya anemia normakromik biasanya   berkaitan  dengan aktifitas.

4) Titer factor rematoid : makin tinggi titernya makin mungkin terdapat kelainan ekstra artikuler. 

5) Faktor ini terkait dengan aktifitas artritis.

 

2.2.7. Pencegahan Rematik

a. Hindari kegiatan tersebut apabila sendi sudah terasa nyeri,

sebaiknya berat badan diturunkan.

b. Istirahat yang cukup.

c. Hindarilah makanan secara berlebihan fakor pencetus rematik.

Makanan yang mengandung banyak purin misalnya : daging,

jeroan, babat, usus, hati.

2.2.8 Penatalaksanaan Keperawatan

1. Memberikan Pendidikan

Pendidikan yang diberikan meliputi pengertian tentang patofisiologi, penyebab dan prognosis penyakit termasuk komponen penatalaksanaan regimen obat yang kompleks. Pendidikan tentang penyakit ini kepada pasien, keluarga dan siapa saja yang berhubungan dengan pasien. Pendidikan pencegahan yang diberikan pada klien berupa istirahat yang cukup, gunakan kaos kaki atau sarung tangan sewaktu tidur malam, kurangi aktivitas yang berat secara perlahan-lahan.

2. Istirahat

Sangat penting karena Rematoid Artritis biasanya disertai rasa lelah yang hebat. Oleh karena itu, pasien harus membagi waktu istirahat dan beraktivitas.

3. Latihan Fisik

Dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencakup gerakan aktif dan pasif semua sendi yang sakit, minimalnya 2x sehari.

4. Termotrafi

Lakukan kompres panas pada sendi- sendi yang sakit dan bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri.

5. Gizi

Pemenuhan gizi pada atritis reumatoid adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi yang optimal serta mengurangi peradangan pada sendi.  Adapun syarat – syarat diet atritis reumatoid adalah protein cukup, lemak sedang, cukup vitamin dan mineral, cairan disesuaikan dengan urine yang dikeluarkan setiap hari. Rata – rata asupan cairan yang dianjurkan adalah 2 – 2 ½ L/hari, karbohidrat dapat diberikan lebih banyak yaitu 65 – 75% dari kebutuhan energi total. 

2.2.9.  Penatalaksanaan Medis

 Oleh karena penyebab pasti arthritis Reumatoid tidak diketahui maka tidak ada pengobatan kausatif yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Hal ini harus benar-benar dijelaskan kepada penderita sehingga tahu bahwa pengobatan yang diberikan bertujuan mengurangi keluhan/ gejala memperlambat progresifvtas penyakit.  Tujuan utama dari program penatalaksanaan/ perawatan adalah sebagai berikut.

- Untuk menghilangkan nyeri dan peradangan

- Untuk mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan

maksimal dari penderita

-  Untuk mencegah dan atau memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi.

-  Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada orang lain.

0 Response to "KONSEP LANSIA DAN PENYAKIT REMATIK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel